Lirik Sepuluh Ribu Bu Ijah
Asap sayur lodeh ngepul
Di depan muka
Aku duduk di bangku kayu
Yang kakinya mulai pincang
Di sebelah
Kaca dingin kafe memantulkan neon silau
Bu Ijah ngelap meja plastik
Yang sebenarnya sudah terang
Tangannya keriput
Diam menunggu
Orang mampir makan siang
Suara ulekan batu
Beradu pelan
Ngalahin bising jalanan Bandung
Yang makin edan
Warung Bu Ijah tak punya AC
Tak ada WiFi
Apalagi Instagram
Tapi dia hapal namamu
Senyumnya lebih hangat
Dari nasi baru matang
Dua puluh lima tahun
Harga selalu sepuluh ribu
Bukan karena dia tak mengerti
Zaman yang berlari
Tapi dia tahu
Yang duduk di sini
Bukan orang berduit tinggi
Tiba-tiba masuk pemuda
Bawa lampu cincin terang
Lensa kamera ponsel menunjuk
Ke piring tempe gorengku
Besoknya
Antrian panjang anak muda menutupi jalan
Mata mereka menunduk
Menatap layar yang menyala biru
Ruangan sempit ini mendadak sesak
Oleh wangi parfum baru
Bising suara rana kamera
Bersahutan
Tapi ketukan ulekan batu itu
Tak pernah pelan
Warung Bu Ijah tak punya AC
Tak ada WiFi
Apalagi Instagram
Tapi dia hapal namamu
Senyumnya lebih hangat
Dari nasi baru matang
Dua puluh lima tahun
Harga selalu sepuluh ribu
Bukan karena dia tak mengerti
Zaman yang berlari
Tapi dia tahu
Yang duduk di sini
Bukan orang berduit tinggi
Kamera akan pergi
Tren pasti berganti arah
Kuli bangunan dan mahasiswa tua
Yang akan tetap singgah
Di tengah kilau neon
Dan layar yang terus merekam
Tangan keriputnya tetap menyodorkan
Piring usang
Aku serahkan selembar uang
Sepuluh ribu lecek dari saku
Dia tersenyum
Mengangguk
Menyebut namaku pelan
Dunia boleh berubah
Tapi meja ini
Tetap jadi pelukan

