Hindia

Hindia

74.4k pengikut

Hindia: Sebuah Nama Yang Telah Menjadi Identitas Baskara Putra atau yang sekarang lebih nyaman dipanggil Hindia, sudah tidak menganggap kedua nama tersebut sebagai karakter yang terpisah. Hindia adalah nama panggung yang dipilihnya untuk tampil secara solo diluar band .Feast, namun kini menjadi Identitas aslinya dimanapun. Nama yang berasal dari pemikirannya saat melihat lukisan Raden Saleh tersebut akhirnya benar-benar memberikannya porsi teresendiri dalam dunia tarik suara dan impiannya untuk menorehkan nama Hindia sebagai salah satu karakter yang ada di Indonesia menjadi tercapai. .Feast sendiri merupakan band independen yang sangat mencuri perhatian penikmat musik dewasa ini. Dari kepopularitasan di lingkungan saja, mereka menjelma menjadi musisi yang patut di perhitungkan. Band ini menjadi terkenal bukan karena sensasinya, melainkan musik segar yang ditawarkannya. Menggabungan warna musik pop, rock, dan elektronik menjadi satu membuat antusiasme audiens menjadi bersemangat. Mengusung lirik yang sarat dengan muatan politik, sosial, dan romansa anak muda, membuat semangat muda mudi tahun 80-an kembali mekar. Baskara Putra selaku vokalis di band tersebut memberikan porsi jasa yang cukup besar dalam membersarkan nama band tersebut. Kemampuan aransemen musik dan menuliskan lirik-lirik yang relatable dalam hal sosial dan politik menjadikannya kuat dalam topik ini. Seperti jiwa seniman pada umumnya yang bebas dan tidak mau dikekang, Baskara juga memiliki proyek sendiri diluar band .Feast. Dengan menggunakan nama panggung “Hindia” ia menyatukan diri dengan karakter tersebut dan menjadi manusia yang baru ketika bermusik solo. Album pertama Hindia – Menari Dengan bayangan – menjadi ruang untuknya berimprovisasi dan menumpahkan segala hal yang ingin dicapai. Dengan bekerja sama musisi-musisi lintas genre seperti Petra Sihombing, Sal Priadi, Rara Sekar, hingga Mater Mos, ia menghasilkan 15 lagu dalam album ini. Bentuk interaksi Baskara dengan pendengarnya bisa dibilang diluar kebiasaan promosi musik pada umumnya. Ia juga aktif melibatkan para pendengar untuk menyumbangkan inspirasi mereka hingga memberikan footage yang bisa dipakai bahan untuk dirinya memproduksi musik sendiri dengan bantuan media sosial. Selain mengungkapkan apa yang diketahuinya, ia juga menjadikan pengalaman orang lain sebagai bahan pijakan. Dengan menuliskan lagu yang relevan dengan kehidupan generasi Z, ia seperti duta besar untuk mewakili masalah yang mereka hadapi saat ini. Berbagai topik mulai dari masalah cebong-kampret, bahaya media sosial, politik PKI, hingga hubungan toxic menjadi santapan bagi dirinya. Disamping itu, ia juga menyalurkan optimisme akan impian pendengarnya agar selalu di jaga dan dirawat dari himpitan waktu. Dengan lagu-lagu yang dihasilkannya, Baskara menjadi penggerak kesadaran politik bagi anak-anak muda Indonesia. Berbagai penyesuaian terus dilakukan oleh dirinya agar musik-musik yang diusungnya selalu terhubung dengan pendengar.

查阅更多
About Hindia
Hindia: Sebuah Nama Yang Telah Menjadi Identitas 

Baskara Putra atau yang sekarang lebih nyaman dipanggil Hindia, sudah tidak menganggap kedua nama tersebut sebagai karakter yang terpisah. 

Hindia adalah nama panggung yang dipilihnya untuk tampil secara solo diluar band .Feast, namun kini menjadi Identitas aslinya dimanapun. Nama yang berasal dari pemikirannya saat melihat lukisan Raden Saleh tersebut akhirnya benar-benar memberikannya porsi teresendiri dalam dunia tarik suara dan impiannya untuk menorehkan nama Hindia sebagai salah satu karakter yang ada di Indonesia menjadi tercapai. 

.Feast sendiri merupakan band independen yang sangat mencuri perhatian penikmat musik dewasa ini. Dari kepopularitasan di lingkungan saja, mereka menjelma menjadi musisi yang patut di perhitungkan. Band ini menjadi terkenal bukan karena sensasinya, melainkan musik segar yang ditawarkannya. Menggabungan warna musik pop, rock, dan elektronik menjadi satu membuat antusiasme audiens menjadi bersemangat. Mengusung lirik yang sarat dengan muatan politik, sosial, dan romansa anak muda, membuat semangat muda mudi tahun 80-an kembali mekar. 

Baskara Putra selaku vokalis di band tersebut memberikan porsi jasa yang cukup besar dalam membersarkan nama band tersebut. Kemampuan aransemen musik dan menuliskan lirik-lirik yang relatable dalam hal sosial dan politik menjadikannya kuat dalam topik ini. 

Seperti jiwa seniman pada umumnya yang bebas dan tidak mau dikekang, Baskara juga memiliki proyek sendiri diluar band .Feast. Dengan menggunakan nama panggung “Hindia” ia menyatukan diri dengan karakter tersebut dan menjadi manusia yang baru ketika bermusik solo. Album pertama Hindia – Menari Dengan bayangan – menjadi ruang untuknya berimprovisasi dan menumpahkan segala hal yang ingin dicapai. Dengan bekerja sama musisi-musisi lintas genre seperti Petra Sihombing, Sal Priadi, Rara Sekar, hingga Mater Mos, ia menghasilkan 15 lagu dalam album ini. 

Bentuk interaksi Baskara dengan pendengarnya bisa dibilang diluar kebiasaan promosi musik pada umumnya. Ia juga aktif melibatkan para pendengar untuk menyumbangkan inspirasi mereka hingga memberikan footage yang bisa dipakai bahan untuk dirinya memproduksi musik sendiri dengan bantuan media sosial. Selain mengungkapkan apa yang diketahuinya, ia juga menjadikan pengalaman orang lain sebagai bahan pijakan. 

Dengan menuliskan lagu yang relevan dengan kehidupan generasi Z, ia seperti duta besar untuk mewakili masalah yang mereka hadapi saat ini. Berbagai topik mulai dari masalah cebong-kampret, bahaya media sosial, politik PKI, hingga hubungan toxic menjadi santapan bagi dirinya. 

Disamping itu, ia juga menyalurkan optimisme akan impian pendengarnya agar selalu di jaga dan dirawat dari himpitan waktu. Dengan lagu-lagu yang dihasilkannya, Baskara menjadi penggerak kesadaran politik bagi anak-anak muda Indonesia. Berbagai penyesuaian terus dilakukan oleh dirinya agar musik-musik yang diusungnya selalu terhubung dengan pendengar.

Kamu mungkin suka