Ebiet G. Ade

135.1k pengikut

Biografi dan Karir Musik Ebiet G. Ade Abid Ghoffar Aboe Dja’far atau yang kerap dipanggil Ebiet G. Ade merupakan penyanyi dan penulis lagu yang lahir pada 21 April 1954 di Wonodadi, Banjarnegara, Jawa Tengah. Dengan gaya musiknya pop, ballad dan country. Selain itu, ia dikenal dekat dengan masayarakat yang tertindas. Tercatat selama karirnya, ia telah menghasilkan 21 album studio dan 25 album kompilasi. Ebiet G. Ade memiliki ciri khas yang unik dalam setiap lagu ciptaannya, ia selalu mengangkat tema-tema yang berkaitan dengan alam, suasana kehidupan yang terjadi di tengah masyarakat, persolan keagamaan, keluarga hingga percintaan. Menjadikan Ebiet sebagai penyanyi yang bisa menggambarkan suasana kehidupan di Indonesia yang terjadi selama awal tahun 1970-an hingga sekarang. Kehidupan Pribadi Ebiet G. Ade merupakan anak bungsu dari Aboe Ja’far. Semenjak kecil ia bercita-cita untuk menjadi seorang insyinyur, dokter dan pelukis. Namun ia berubah haluan ketika dewasa menjadi seorang penyanyi terkenal walaupun hanya ingin dianggap sebagai seorang penyair. Pada 1970-an, Ebiet dekat dengan komunitas seniman muda Yogyakarta yang perlahan-lahan membentuk gaya musiknya. Dekat dengan artis produktif Emha Ainun Nadjib, dia sering memusikalisasi puisi temannya dengan gitarnya sendiri. Waktu itu dia sangat tertarik dengan puisi dan ingin menjadi seorang penyair, namun ia tidak mampu untuk membaca puisi dengan baik. Dia malah menyayikan puisi-puisi tersebut yang ditambah dengan melodinya. Karir Musik Pada tahun 1979, Ebiet G. Ade merilis album studio pertamanya Camellia I yang Ia rekam di studio Jackson Record, setelah beberapa kali ditolak oleh studio rekaman lain. Tapi, saat masuk studio rekaman, dia tidak satu pun menyanyikan lagu Emha. Semua lirik lagunya ditulis sendiri oleh Ebiet, dia tidak pernah berkolaborasi dengan penyanyi lain untuk mengaransemen liriknya, tapi dia bisa berkolaborasi dengan mereka untuk mengaransemen musiknya. Kecuali, lagu “Surat dari Desa” yang ditulis bersama Oding Arnaldi dan “Mengarungi Keberkahan Tuhan” bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Meski berat rasanya meninggalkan Yogyakarta, Ebiet berkonsentrasi untuk mencoba peruntungan dan bakat alaminya di Jakarta. Rekaman lagunya sukses. Dia merekam di Filipina untuk mendapat rekaman yang lebih baik. Namun ia menolak untuk merekam lagu-lagunya dalam bahasa Jepang ketika ia berkesempatan untuk konser di sana. Pada tahun 1978, Ebiet menulis lagu “Berita Kepada Kawan” setelah terjadi bencana gas beracun di Dataran Tinggi Dieng. Pada tahun 1981, ia menulis “Sebuah Tragedi” tentang tenggelamnya KMP Tampomas II di Kepulauan Masalembu. Dan ia menulis “Untuk Kita Renungkan” setelah kejadian letusan Galunggung tahun 1982. Serta kecelakaan kereta api Bintaro menginspirasi dia kembali untuk menulis “Masih Ada Waktu”. Itu semuanya tentang fenomena alam. Tema lain dari lagu-lagunya adalah tentang percintaan, seperti lagu “Untuk Sebuah Nama”, “Selagi Esok Pagi” dan “Cinta di Kereta Biru Malam”, yaitu tentang hubungan romantis dengan seorang gadis di kereta yang diambil dari album Camellia di mana album tersebut terjual lebih dari 2 juta copy. Menurut Rolling Stone, Ebiet G. Ade berhasil menempatkan namanya pada 50 Penyanyi Indonesia Terbesar.

Baca Lebih Lanjut

Album | Single

Serenade dari Ebiet G. Ade
Serenade14 Okt 2014

Tentang Ebiet G. Ade :

Biografi dan Karir Musik Ebiet G. Ade Abid Ghoffar Aboe Dja’far atau yang kerap dipanggil Ebiet G. Ade merupakan penyanyi dan penulis lagu yang lahir pada 21 April 1954 di Wonodadi, Banjarnegara, Jawa Tengah. Dengan gaya musiknya pop, ballad dan country. Selain itu, ia dikenal dekat dengan masayarakat yang tertindas. Tercatat selama karirnya, ia telah menghasilkan 21 album studio dan 25 album kompilasi. Ebiet G. Ade memiliki ciri khas yang unik dalam setiap lagu ciptaannya, ia selalu mengangkat tema-tema yang berkaitan dengan alam, suasana kehidupan yang terjadi di tengah masyarakat, persolan keagamaan, keluarga hingga percintaan. Menjadikan Ebiet sebagai penyanyi yang bisa menggambarkan suasana kehidupan di Indonesia yang terjadi selama awal tahun 1970-an hingga sekarang. Kehidupan Pribadi Ebiet G. Ade merupakan anak bungsu dari Aboe Ja’far. Semenjak kecil ia bercita-cita untuk menjadi seorang insyinyur, dokter dan pelukis. Namun ia berubah haluan ketika dewasa menjadi seorang penyanyi terkenal walaupun hanya ingin dianggap sebagai seorang penyair. Pada 1970-an, Ebiet dekat dengan komunitas seniman muda Yogyakarta yang perlahan-lahan membentuk gaya musiknya. Dekat dengan artis produktif Emha Ainun Nadjib, dia sering memusikalisasi puisi temannya dengan gitarnya sendiri. Waktu itu dia sangat tertarik dengan puisi dan ingin menjadi seorang penyair, namun ia tidak mampu untuk membaca puisi dengan baik. Dia malah menyayikan puisi-puisi tersebut yang ditambah dengan melodinya. Karir Musik Pada tahun 1979, Ebiet G. Ade merilis album studio pertamanya Camellia I yang Ia rekam di studio Jackson Record, setelah beberapa kali ditolak oleh studio rekaman lain. Tapi, saat masuk studio rekaman, dia tidak satu pun menyanyikan lagu Emha. Semua lirik lagunya ditulis sendiri oleh Ebiet, dia tidak pernah berkolaborasi dengan penyanyi lain untuk mengaransemen liriknya, tapi dia bisa berkolaborasi dengan mereka untuk mengaransemen musiknya. Kecuali, lagu “Surat dari Desa” yang ditulis bersama Oding Arnaldi dan “Mengarungi Keberkahan Tuhan” bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Meski berat rasanya meninggalkan Yogyakarta, Ebiet berkonsentrasi untuk mencoba peruntungan dan bakat alaminya di Jakarta. Rekaman lagunya sukses. Dia merekam di Filipina untuk mendapat rekaman yang lebih baik. Namun ia menolak untuk merekam lagu-lagunya dalam bahasa Jepang ketika ia berkesempatan untuk konser di sana. Pada tahun 1978, Ebiet menulis lagu “Berita Kepada Kawan” setelah terjadi bencana gas beracun di Dataran Tinggi Dieng. Pada tahun 1981, ia menulis “Sebuah Tragedi” tentang tenggelamnya KMP Tampomas II di Kepulauan Masalembu. Dan ia menulis “Untuk Kita Renungkan” setelah kejadian letusan Galunggung tahun 1982. Serta kecelakaan kereta api Bintaro menginspirasi dia kembali untuk menulis “Masih Ada Waktu”. Itu semuanya tentang fenomena alam. Tema lain dari lagu-lagunya adalah tentang percintaan, seperti lagu “Untuk Sebuah Nama”, “Selagi Esok Pagi” dan “Cinta di Kereta Biru Malam”, yaitu tentang hubungan romantis dengan seorang gadis di kereta yang diambil dari album Camellia di mana album tersebut terjual lebih dari 2 juta copy. Menurut Rolling Stone, Ebiet G. Ade berhasil menempatkan namanya pada 50 Penyanyi Indonesia Terbesar.

Nikmati lagu-lagu Ebiet G. Ade di JOOX kapan saja! Setiap kali kita berbicara tentang seorang seniman dengan lagu dan album yang luar biasa, kita tidak bisa melewatkan satu nama yaitu Ebiet G. Ade.Ebiet G. Ade adalah salah satu artis populer yang memiliki pengikut 135,194 .Jika kamu juga mencari lagu -lagu Ebiet G. Ade di sini lah tempatnya! Di Joox kami menyajikan kompilasi video musik dan lagu yang luar biasa dengan lirik yang benar-benar akan kamu nikmati!

.