Darso

23.4k pengikut

Bagi masyarakat Sunda, Kang Darson adalah seniman yang tidak akan pernah bisa dilupakan. Dengan selera berpakaian yang eksentrik, lengkap dengan kaca mata hitam dan pakaian ala Michael Jackson, siapa saja pasti tertarik untuk melihat siapa dia. Memiliki genre musik pop-Sunda dengan ciri khas calung, ia selalu dikenal sebagai musisi yang menelurkan lagu-lagu bagus. Bagi kang Darso, musik itu tidak hanya bisa dinikmati dari suara saja, tapi ia juga menyuguhkan penampilan yang kocak, lucu, dan tidak jarang nyeleneh. Dedikasi pria yang lahir pada 12 Agustus 1945 itu akan pop Sunda telah menganugerahkannya sebagai The King of Pop Sunda. 45 tahun berkiprah di dunia musik, setidaknya 300 album lebih telah diproduksi oleh dirinya. Lagu populer dari kang Darso diantaranya Kabogoh Jauh, Maribaya, dan Dina Amparan Sajadah adalah item pertama kali yang akan direkomendasikan diantara banyak lagu-lagu karya beliau. Awal karir kang Darson dimulai dengan bermain bas untuk sebuah grup musik Nada Karya dan Nada Kencana. Ia juga pernah ikut dalam band yang dimiliki oleh Pusat Persenjataan Kavaleri Bandung. Namun saat G30S PKI mengancam rakyat Indonesia, ia sempat rehat dari musik hingga ketegangan mereda. Barulah pada tahun 1968 ia kembali terjun ke ranah musik bersama sang kakak, Uko Hendarso dengan memasukkan instrumen Calung. Lagu terpopuler dari mereka waktu itu adalah “Kiamat”. Penampilan dari kang Darso sendiri tidaklah mulus dari awal, menggabungkan musik tradisional dengan musik modern adalah hal baru bagi masyarakat dan sempat ditentang. Selain itu, gaya berpakaian kang Darson yang bisa dibilang aneh saat itu juga menjadi bahan ejekan masyarakat. Baju formal dengan desain yang tidak biasa dan warna yang mencolok menjadi ciri khas sang maestro po-Sunda tersebut. Eksistensi kang Darso di dunia musik Indonesia adalah fenomena yang merupakan revolusi kebebasan seni yang mengiringi perkembangan musik di Indonesia. Berangkat dari lagu tersebut, ia kemudian di rekomendasikan oleh S. Hidayat untuk tampil bersama Baskara Saba Desa di RRI. Disni ia merilis lagu “Kembang Tanjung, Cangkurileung, dan Panineungan” dibawah label Asmara Record. Seiring dengan perkembangan zaman, televisi kemudian mulai mengambil alih siaran-siaran radio. Ia kemudian terjun ke dunia pertelevisian dan mulai mengeksplor genre musik lain seperti dangdut. Awal-awal tampil di televisi, ia memperkenalkan lagu “Randa Geulis, Maribaya, Dina Amparan Sajadah, dan Kabogoh Jauh”. Lama malang melintang di dunia musik tanah air, pada tahun 2005 ia diberikan penghargaan Anugrah Musik Jabar 2005 oleh Gubernur Jabar yang menjabat tahun tersebut. Empat tahun kemudian, ia kembali mendapatkan penghargaan oleh Dada Rosada yang menjabat sebagai Wali Kota Bandung waktu itu dengan penghargaan Anugrah Budaya Kota Bandung 2009.

Baca Lebih Lanjut

About Darso

Bagi masyarakat Sunda, Kang Darson adalah seniman yang tidak akan pernah bisa dilupakan. Dengan selera berpakaian yang eksentrik, lengkap dengan kaca mata hitam dan pakaian ala Michael Jackson, siapa saja pasti tertarik untuk melihat siapa dia. Memiliki genre musik pop-Sunda dengan ciri khas calung, ia selalu dikenal sebagai musisi yang menelurkan lagu-lagu bagus.
Bagi kang Darso, musik itu tidak hanya bisa dinikmati dari suara saja, tapi ia juga menyuguhkan penampilan yang kocak, lucu, dan tidak jarang nyeleneh. Dedikasi pria yang lahir pada 12 Agustus 1945 itu akan pop Sunda telah menganugerahkannya sebagai The King of Pop Sunda. 45 tahun berkiprah di dunia musik, setidaknya 300 album lebih telah diproduksi oleh dirinya.
Lagu populer dari kang Darso diantaranya Kabogoh Jauh, Maribaya, dan Dina Amparan Sajadah adalah item pertama kali yang akan direkomendasikan diantara banyak lagu-lagu karya beliau.
Awal karir kang Darson dimulai dengan bermain bas untuk sebuah grup musik Nada Karya dan Nada Kencana. Ia juga pernah ikut dalam band yang dimiliki oleh Pusat Persenjataan Kavaleri Bandung. Namun saat G30S PKI mengancam rakyat Indonesia, ia sempat rehat dari musik hingga ketegangan mereda. Barulah pada tahun 1968 ia kembali terjun ke ranah musik bersama sang kakak, Uko Hendarso dengan memasukkan instrumen Calung. Lagu terpopuler dari mereka waktu itu adalah “Kiamat”. Penampilan dari kang Darso sendiri tidaklah mulus dari awal, menggabungkan musik tradisional dengan musik modern adalah hal baru bagi masyarakat dan sempat ditentang. Selain itu, gaya berpakaian kang Darson yang bisa dibilang aneh saat itu juga menjadi bahan ejekan masyarakat. Baju formal dengan desain yang tidak biasa dan warna yang mencolok menjadi ciri khas sang maestro po-Sunda tersebut.
Eksistensi kang Darso di dunia musik Indonesia adalah fenomena yang merupakan revolusi kebebasan seni yang mengiringi perkembangan musik di Indonesia.
Berangkat dari lagu tersebut, ia kemudian di rekomendasikan oleh S. Hidayat untuk tampil bersama Baskara Saba Desa di RRI. Disni ia merilis lagu “Kembang Tanjung, Cangkurileung, dan Panineungan” dibawah label Asmara Record.
Seiring dengan perkembangan zaman, televisi kemudian mulai mengambil alih siaran-siaran radio. Ia kemudian terjun ke dunia pertelevisian dan mulai mengeksplor genre musik lain seperti dangdut. Awal-awal tampil di televisi, ia memperkenalkan lagu “Randa Geulis, Maribaya, Dina Amparan Sajadah, dan Kabogoh Jauh”.
Lama malang melintang di dunia musik tanah air, pada tahun 2005 ia diberikan penghargaan Anugrah Musik Jabar 2005 oleh Gubernur Jabar yang menjabat tahun tersebut. Empat tahun kemudian, ia kembali mendapatkan penghargaan oleh Dada Rosada yang menjabat sebagai Wali Kota Bandung waktu itu dengan penghargaan Anugrah Budaya Kota Bandung 2009.

Kamu mungkin suka