Hanin Dhiya

255.9k pengikut

Hanin Dhiya – Menunggu Hingga Matang Berkarir Menjadi lolosan Rising Star Indonesia tentunya memberikan keuntungan tersendiri bagi seseorang, tidak terkecuali untuk Hanin Dhiya. Gadis muda kelahiran 21 Februari 2001 di Bogor ini memutuskan untuk mengambil jalan karir sebagai penyanyi dengan mengikuti ajang pencarian bakat begengsi Indonesia. Ajang yang pertama kali diikutinya tahun 2014 tersebut telah memperkenalkan Hanin pada audiens yang lebih luas. Dengan keluar sebagai runner up, ia semakin terkenal setelah menyanyikan lagu “Yang Terbaik” sehingga terbentuk fan base yang bernama Haninours. Sempat sibuk dengan jadwal manggung on-air dan off-air setelah lepas dari ajang tersebut, setelah beberapa saat ia bisa mendapatkan ruang untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Ia kemudian menyibukkan diri untuk melakukan cover lagu dan mengunggahnya di kanal YouTube sendiri. Umurnya yang masih 13 tahun begitu tanggung kemana-mana; tanggung jika menyanyikan lagu anak-anak dan tanggung untuk menyanyikan lagu remaja. Selama 3 tahun, ia terus mengasah kemampuan bernyanyinya hingga matang. Barulah di umur 16 tahun, menjadi penanda bahwa inilah saatnya untuk kembali berkarir dengan merilis dua single, “Darling” dan “Kau Yang Sembunyi” di tahun 2018. Di tahun 2019, ia mendapatkan kesempatan untuk mewakili Indonesia tampil dalam ABU TV Song Festival yang diadakan di Jepang. Festival ini sendiri mengacu pada kontes Eurosong yang ada di Eropa dimana kontes akan dibagi menjadi dua – festival lagu radio dan festival lagu televisi. Semua kegiatan ini dikelola oleh Asia-pasific Broadcast union (ABU) dan negara-negara yang berpartisipasi dalam festival ini akan mempertunjukan lagu secara live didepan audiens. Dengan tampilan barunya yang mengenakan hijab, Hanin ikut dalam mengkampanyekan kesehatan mental di hari kesehatan mental dunia yang berjudul “Project Unsung”. Project ini mengikutsertakan berbagai penyanyi luar negri seperti Rahmania Astrini, Suara Kayu (Indonesia), St. Wolf (Filipina), Pyra (Thailand), Soleima (Denmark), Nathan Hartono dan Jasmine Sokko (Singapura), Anri Kumaki (Jepang), Dough-Boy (Hong Kong), Kiiara (Amerika). Project ini adalah sebuah pengingat pada masyarakat global bahwa kesehatan mental anak-anak muda saat ini begitu terancam dan berada pada titik dimana tingkat stress dan bunuh diri yang terus bertambah tinggi. Dengan lagu “Waktunya Sendiri”, ia berharap teman-teman bisa menemukan cara untuk bisa mengatasi gangguan mental yang mereka rasakan dan bisa menarik diri dari hal-hal yang memperparah gejala-gejala gangguan tersebut. Menambah jejak karirnya dalam dunia hiburan, ia mulai menjajaki lagu-lagu relijius. Ia melakukan kolaborasi dengan Sabyan membawakan lagu “Fatimah Azzahra”, dimana lagu tersebut dirilis secara digital melalui sebuah kanal YouTube. Ia mengakui cukup sulit keluar dari zona nyaman bernyanyi namun ia juga tidak menyangka bisa menghasilkan lagu yang bagus sekali.

Baca Lebih Lanjut

Video & MV

About Hanin Dhiya

Hanin Dhiya – Menunggu Hingga Matang Berkarir 

Menjadi lolosan Rising Star Indonesia tentunya memberikan keuntungan tersendiri bagi seseorang, tidak terkecuali untuk Hanin Dhiya. Gadis muda kelahiran 21 Februari 2001 di Bogor ini memutuskan untuk mengambil jalan karir sebagai penyanyi dengan mengikuti ajang pencarian bakat begengsi Indonesia. 

Ajang yang pertama kali diikutinya tahun 2014 tersebut telah memperkenalkan Hanin pada audiens yang lebih luas. Dengan keluar sebagai runner up, ia semakin terkenal setelah menyanyikan lagu “Yang Terbaik” sehingga terbentuk fan base yang bernama Haninours. 

Sempat sibuk dengan jadwal manggung on-air dan off-air setelah lepas dari ajang tersebut, setelah beberapa saat ia bisa mendapatkan ruang untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Ia kemudian menyibukkan diri untuk melakukan cover lagu dan mengunggahnya di kanal YouTube sendiri. Umurnya yang masih 13 tahun begitu tanggung kemana-mana; tanggung jika menyanyikan lagu anak-anak dan tanggung untuk menyanyikan lagu remaja. Selama 3 tahun, ia terus mengasah kemampuan bernyanyinya hingga matang. Barulah di umur 16 tahun, menjadi penanda bahwa inilah saatnya untuk kembali berkarir dengan merilis dua single, “Darling” dan “Kau Yang Sembunyi” di tahun 2018. 

Di tahun 2019, ia mendapatkan kesempatan untuk mewakili Indonesia tampil dalam ABU TV Song Festival yang diadakan di Jepang. Festival ini sendiri mengacu pada kontes Eurosong yang ada di Eropa dimana kontes akan dibagi menjadi dua – festival lagu radio dan festival lagu televisi. Semua kegiatan ini dikelola oleh Asia-pasific Broadcast union (ABU) dan negara-negara yang berpartisipasi dalam festival ini akan mempertunjukan lagu secara live didepan audiens. 

Dengan tampilan barunya yang mengenakan hijab, Hanin ikut dalam mengkampanyekan kesehatan mental di hari kesehatan mental dunia yang berjudul “Project Unsung”. Project ini mengikutsertakan berbagai penyanyi luar negri seperti Rahmania Astrini, Suara Kayu (Indonesia), St. Wolf (Filipina), Pyra (Thailand), Soleima (Denmark), Nathan Hartono dan Jasmine Sokko (Singapura), Anri Kumaki (Jepang), Dough-Boy (Hong Kong), Kiiara (Amerika). 

Project ini adalah sebuah pengingat pada masyarakat global bahwa kesehatan mental anak-anak muda saat ini begitu terancam dan berada pada titik dimana tingkat stress dan bunuh diri yang terus bertambah tinggi. Dengan lagu “Waktunya Sendiri”, ia berharap teman-teman bisa menemukan cara untuk bisa mengatasi gangguan mental yang mereka rasakan dan bisa menarik diri dari hal-hal yang memperparah gejala-gejala gangguan tersebut.  

Menambah jejak karirnya dalam dunia hiburan, ia mulai menjajaki lagu-lagu relijius. Ia melakukan kolaborasi dengan Sabyan membawakan lagu “Fatimah Azzahra”, dimana lagu tersebut dirilis secara digital melalui sebuah kanal YouTube. Ia mengakui cukup sulit keluar dari zona nyaman bernyanyi namun ia juga tidak menyangka bisa menghasilkan lagu yang bagus sekali.

Kamu mungkin suka