Ustad Jefri Al Buchori

28.9k pengikut

Jefrie besar dilingkungan yang taat beragama, tidak heran jika dia banyak memahami tentang agama Islam. Saat kelas 5 SD, Uje (panggilan akrabnya) pernah ikut MTQ dan menjuarai kompetisi membaca Al-Quran tersebut. Tapi besar dilingkungan tersebut tidak membuatnya serta merta menggeluti bidang dakwah seperti yang diinginkan oleh M. Islam Modal dan Tatu Mulyana, orang tua Jefrie. Hingga akhirnya beranjak SMA, perilaku aslinya semakin terlihat ketika beranjak SMA. Mengikuti pergaulan bebas, ia semakin tidak terkendali. Dugem, obat-obatan terlarang, dan berbagai kegiatan yang berseberangan dengan agama dilakukannya. Perilaku ini akhirnya membawanya terejerumus hingga lebih dalam sampai-sampai ia harus berpindah-pindah sekolah saat itu. Meski demikian, perilakunya tidak berubah dan semakin sering titip absen pada temannya. 1994, ia menyempatkan diri untuk pergi umroh. Dari sini, kejadian demi kejadian menimpa Uje. Satu kejadian yang membuatnya kuat untuk kembali ke jalan Allah yaitu ketika sang Ayah dipanggil oleh yang maha kuasa. Awal karir menjadi seorang penceramah tidak berjalan mulus seperti yang dibayangkan, tidak jarang ia di ditolak untuk ceramah lantaran masa lalu yang kelam. Tapi dengan keteguhan hatinya, Uje akhirnya mulai diterima dimasyarakat dan sejak tahun 2000-an, ia salah satu ustad yang populer. Selain dakwah di mesjid-mesjid, untuk pertama kalinya ia diundang mengisi acara dakwa di televisi di Salam Sahur (SalSa). Sebuah acara Ramadhan yang ditayangkan pada stasiun televisi swasta di Indonesia yang berlanjut hingga tahun berikutnya. Kemudian di tahun 2004, ia mulai rutin memberikan Tausiyah di TPI dan orang-orang sudah mengenalnya dengan baik. Pada awalnya, tampilan Uje sama seperti penceramah lain, dengan memakai turban dan baju gamis. Namun semakin kesini, jamaah yang mendengarkan ceramahnya semakin banyak yang muda. Kemudian ia mulai menggunakan pakaian yang lebih casual seperti baju koko. Dari sini, Uje mulai tampil tiga hingga empat kali dalam satu minggu . Di tahun 2005, Uje menambah cara dakwahnya dengan merilis album lagu-lagu relijius. Album pertama ini dirilis dengan judul “Lahir Kembali” dimana didalamnya terdapat 10 lagu, yaitu: I`tiraf, Sepohon Kayu, Ya Rabbana (ft. Opick), Allah Maha, Azab Illahi, Ya Rasulullah, Iqra, Kiamat, Istighfar, Selamat Hari Lebaran. Kemudian ia merilis lagi album religi dimana didalam album tersebut berisi kumpulan-kumpulan sholawat dan mereka itu adalah Ya Rosulallah, Ya Nabi Salam, Marhaban Ya Nurulain, Tholaal Badru, Ya Rabbi Bil Mustofa, Subhanallah, Shalawat Badar, Sholawatunnabi, Shalawat Nariyah, Doa Khatam Al-Quran. Walaupun kepergian Uje pada April 2013 terjadi dengan tanpa diduga, musik dan dakwah yang ditinggalkan oleh mendiang tetap dikenang sampai saat ini. Bahkan sampai sekarang, dakwah-dakwah Uje tetap diputar kembali.

Baca Lebih Lanjut

About Ustad Jefri Al Buchori

Jefrie besar dilingkungan yang taat beragama, tidak heran jika dia banyak memahami tentang agama Islam. Saat kelas 5 SD, Uje (panggilan akrabnya) pernah ikut MTQ dan menjuarai kompetisi membaca Al-Quran tersebut.
Tapi besar dilingkungan tersebut tidak membuatnya serta merta menggeluti bidang dakwah seperti yang diinginkan oleh M. Islam Modal dan Tatu Mulyana, orang tua Jefrie. Hingga akhirnya beranjak SMA, perilaku aslinya semakin terlihat ketika beranjak SMA. Mengikuti pergaulan bebas, ia semakin tidak terkendali. Dugem, obat-obatan terlarang, dan berbagai kegiatan yang berseberangan dengan agama dilakukannya.
Perilaku ini akhirnya membawanya terejerumus hingga lebih dalam sampai-sampai ia harus berpindah-pindah sekolah saat itu. Meski demikian, perilakunya tidak berubah dan semakin sering titip absen pada temannya.
1994, ia menyempatkan diri untuk pergi umroh. Dari sini, kejadian demi kejadian menimpa Uje. Satu kejadian yang membuatnya kuat untuk kembali ke jalan Allah yaitu ketika sang Ayah dipanggil oleh yang maha kuasa. Awal karir menjadi seorang penceramah tidak berjalan mulus seperti yang dibayangkan, tidak jarang ia di ditolak untuk ceramah lantaran masa lalu yang kelam. Tapi dengan keteguhan hatinya, Uje akhirnya mulai diterima dimasyarakat dan sejak tahun 2000-an, ia salah satu ustad yang populer.
Selain dakwah di mesjid-mesjid, untuk pertama kalinya ia diundang mengisi acara dakwa di televisi di Salam Sahur (SalSa). Sebuah acara Ramadhan yang ditayangkan pada stasiun televisi swasta di Indonesia yang berlanjut hingga tahun berikutnya. Kemudian di tahun 2004, ia mulai rutin memberikan Tausiyah di TPI dan orang-orang sudah mengenalnya dengan baik.
Pada awalnya, tampilan Uje sama seperti penceramah lain, dengan memakai turban dan baju gamis. Namun semakin kesini, jamaah yang mendengarkan ceramahnya semakin banyak yang muda. Kemudian ia mulai menggunakan pakaian yang lebih casual seperti baju koko. Dari sini, Uje mulai tampil tiga hingga empat kali dalam satu minggu .
Di tahun 2005, Uje menambah cara dakwahnya dengan merilis album lagu-lagu relijius. Album pertama ini dirilis dengan judul “Lahir Kembali” dimana didalamnya terdapat 10 lagu, yaitu: I`tiraf, Sepohon Kayu, Ya Rabbana (ft. Opick), Allah Maha, Azab Illahi, Ya Rasulullah, Iqra, Kiamat, Istighfar, Selamat Hari Lebaran. 
Kemudian ia merilis lagi album religi dimana didalam album tersebut berisi kumpulan-kumpulan sholawat dan mereka itu adalah Ya Rosulallah, Ya Nabi Salam, Marhaban Ya Nurulain, Tholaal Badru, Ya Rabbi Bil Mustofa, Subhanallah, Shalawat Badar, Sholawatunnabi, Shalawat Nariyah, Doa Khatam Al-Quran.
Walaupun kepergian Uje pada April 2013 terjadi dengan tanpa diduga, musik dan dakwah yang ditinggalkan oleh mendiang tetap dikenang sampai saat ini. Bahkan sampai sekarang, dakwah-dakwah Uje tetap diputar kembali.

Kamu mungkin suka