Didi Kempot

408.4k pengikut

Kisah Perjalanan Karir Musik Didi Kempot ‘Godfather of Broken Heart’ Didi Kempot atau nama aslinya Didik Prasetya lahir di Surakarta, Jawa Tengah pada tanggal 31 Desember 1966. Ia adalah seorang penyanyi dan pencipta lagu Indonesia dengan gaya campursari. Selain di Indonesia, Didi juga terkenal di Suriname dan Belanda, di mana keduanya masih memiliki populasi masyarakat asli Jawa yang tinggal disana. Tercatat, ia telah menulis sekitar 700 lagu, terutama dalam bahasa Jawa asli. Karir Awal Didi Kempot memulai karirnya sebagai pengamen jalanan di kampung halamannya mulai dari tahun 1984 hingga 1986 sebelum pindah ke Jakarta. Menurutnya, sesampai di Jakarta untuk mengejar karir di bidang musik, ia dan delapan temannya tidur di kamar sempit dengan harga 15 ribu per bulan. Saat itu Didi dan teman-temannya berhasil menulis banyak lagu, termasuk “We Cen Yu”, “Cidro”, “Moblong-Moblong”, “Lerteler Meneh” dan “Podo Pintere”. Lagu-lagu tersebut sempat populer di kalangan pengamen meski belum dirilis secara resmi. Ini meyakinkan ia untuk terus mengejar karir musik. Setelah mengamen, Didi biasanya menemukan waktu untuk merekam lagu menggunakan kaset dan tape recorder kosong. Saat lagu sudah direkam, Didi langsung menyerahkan langsung ke berbagai studio rekaman sebagai demo, namun seringkali rekaman itu hanya sampai di meja keamanan. Akhirnya Musica Studios akhirnya memanggil Didi karena tertarik dengan demo tape miliknya. Didi kemudian dibantu oleh Pompi Suradimansyah, salah satu anggota band No Koes, dalam mengaransemen musik. Pelan tapi pasti, lagu komedi “We Cen Yu” yang didapuk sebagai single menjadi populer di masyarakat, khususnya di Jakarta. Didi ditawari membuat video musik untuk ditayangkan di TVRI. Ini juga pertama kalinya dia muncul di layar televisi. Pada tahun 1989, ia merilis single “Cidro” yang langsung populer pada saat itu. Tema lagunya yang tak biasa seperti “Bulan Bisa Ngomong” karya Doel Sumbang. Kesuksesan Karir Pada awal 1990-an, Didi merilis lagu “Sewu Kutho” dan “Stasiun Balapan” yang menjadi hits di Indonesia. Pamor Didi di belantika musik Indonesia melejit setelah merilis albumnya Stasiun Balapan (1999). Media cetak dan elektronik mulai meliput Didi. Ia mondar-mandir ke berbagai stasiun televisi untuk promo album. Kesuksesan album Stasiun Balapan membuat Didi merekam album keduanya yang bertajuk Modal Dengkul. Selain itu, album yang ia rilis di awal 2000-an adalah Tanjung Mas Ninggal Janji, Seketan Ewu, Ketaman Asmoro (2001), Poko’e Melu (2002), Cucak Rowo (2003), Jambu Alas bersama Nunung Alvi (2004) dan Ono Opo (2005). Pada April 2020, Didi menyiarkan konser amal langsung dari rumahnya dan mengumpulkan total Rp7,6 miliar untuk membantu orang Indonesia yang terkena pandemi COVID-19. Dia juga merilis lagu berjudul “Ojo Mudik” (jangan pergi mudik) memohon kepada penggemarnya untuk tidak pulang kampung selama musim liburan Idul Fitri untuk mencegah penyebaran virus selama pandemi COVID-19 ini.

Baca Lebih Lanjut

Video & MV

About Didi Kempot

Kisah Perjalanan Karir Musik Didi Kempot ‘Godfather of Broken Heart’  

Didi Kempot atau nama aslinya Didik Prasetya lahir di Surakarta, Jawa Tengah pada tanggal 31 Desember 1966. Ia adalah seorang penyanyi dan pencipta lagu Indonesia dengan gaya campursari. Selain di Indonesia, Didi juga terkenal di Suriname dan Belanda, di mana keduanya masih memiliki populasi masyarakat asli Jawa yang tinggal disana. Tercatat, ia telah menulis sekitar 700 lagu, terutama dalam bahasa Jawa asli. 

Karir Awal 

Didi Kempot memulai karirnya sebagai pengamen jalanan di kampung halamannya mulai dari tahun 1984 hingga 1986 sebelum pindah ke Jakarta. Menurutnya, sesampai di Jakarta untuk mengejar karir di bidang musik, ia dan delapan temannya tidur di kamar sempit dengan harga 15 ribu per bulan. Saat itu Didi dan teman-temannya berhasil menulis banyak lagu, termasuk “We Cen Yu”, “Cidro”, “Moblong-Moblong”, “Lerteler Meneh” dan “Podo Pintere”. Lagu-lagu tersebut sempat populer di kalangan pengamen meski belum dirilis secara resmi. Ini meyakinkan ia untuk terus mengejar karir musik. Setelah mengamen, Didi biasanya menemukan waktu untuk merekam lagu menggunakan kaset dan tape recorder kosong. Saat lagu sudah direkam, Didi langsung menyerahkan langsung ke berbagai studio rekaman sebagai demo, namun seringkali rekaman itu hanya sampai di meja keamanan. 

Akhirnya Musica Studios akhirnya memanggil Didi karena tertarik dengan demo tape miliknya. Didi kemudian dibantu oleh Pompi Suradimansyah, salah satu anggota band No Koes, dalam mengaransemen musik. Pelan tapi pasti, lagu komedi “We Cen Yu” yang didapuk sebagai single menjadi populer di masyarakat, khususnya di Jakarta. Didi ditawari membuat video musik untuk ditayangkan di TVRI. Ini juga pertama kalinya dia muncul di layar televisi. Pada tahun 1989, ia merilis single “Cidro” yang langsung populer pada saat itu. Tema lagunya yang tak biasa seperti “Bulan Bisa Ngomong” karya Doel Sumbang.  

Kesuksesan Karir 

Pada awal 1990-an, Didi merilis lagu “Sewu Kutho” dan “Stasiun Balapan” yang menjadi hits di Indonesia. Pamor Didi di belantika musik Indonesia melejit setelah merilis albumnya Stasiun Balapan (1999). Media cetak dan elektronik mulai meliput Didi. Ia mondar-mandir ke berbagai stasiun televisi untuk promo album. Kesuksesan album Stasiun Balapan membuat Didi merekam album keduanya yang bertajuk Modal Dengkul. Selain itu, album yang ia rilis di awal 2000-an adalah Tanjung Mas Ninggal Janji, Seketan Ewu, Ketaman Asmoro (2001), Poko’e Melu (2002), Cucak Rowo (2003), Jambu Alas bersama Nunung Alvi (2004) dan Ono Opo (2005). 

Pada April 2020, Didi menyiarkan konser amal langsung dari rumahnya dan mengumpulkan total Rp7,6 miliar untuk membantu orang Indonesia yang terkena pandemi COVID-19. Dia juga merilis lagu berjudul “Ojo Mudik” (jangan pergi mudik) memohon kepada penggemarnya  untuk tidak pulang kampung selama musim liburan Idul Fitri untuk mencegah penyebaran virus selama pandemi COVID-19 ini.

Kamu mungkin suka